PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KUCING KUCINGAN (ACALYPHA INDICA) TERHADAP GAMBARAN HATI TIKUS PUTIH YANG DI INDUKSI PARACETAMOL
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Jenis tanaman yang termasuk dalam kelompok tanaman obat mencapai lebih dari 1000 jenis. Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu terbukti dari adanya naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang ndalem dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya (Sukandar E Y, 2006). Menurut Sastroamidjojo (1997), Indonesia memiliki jenis tanaman obat yang banyak ragamnya.
Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih rendah dari pada obat modern. Namun tanaman obat, seperti halnya obat buatan pabrik memang tak bisa dikonsumsi sembarangan. Tetap ada dosis yang harus dipatuhi, seperti halnya resep dokter (Suarni, 2005).
Salah satu tanaman obat tradisional adalah tanaman kucing-kucingan (Acalypha indica L.) (Anonimus, 2010a). Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat yang umum ditemukan di pekarangan rumah, kebun tempat pembuangan sampah dan lain-lain. Secara ilmiah tanaman ini telah digunakan sebagai ekspektoran pada kasus asma dan pneumonia, sebagai emetic, emenagogue, dan antelmentik (Shivayogi et al., 1999). Tanaman ini termasuk jenis tanaman semusim, berbatang tegak dengan tinggi 30-50 cm, bercabang dengan garis memanjang kasar, berdaun tunggal, bertangkai panjang, helaian daun berbentuk bulat telur sampai lanset, tipis dengan ujung dan pangkal daun berbentuk runcing, tepi bergerigi, panjang 2,5-8 cm, lebar 1,5-3,5 cm, berwarna hijau. Bunga majemuk, termasuk tanaman yang berkelamin satu. Buahnya berbentuk buah kotak. Biji berbentuk bulat panjang dan berwarna cokelat. Akarnya termasuk akar tunggang (Dalimartha, 2008). Tanaman ini berkhasiat sebagai antiradang, antibakteri, diuretik, pencahar, dan penghenti perdarahan, oleh karena itu tanaman ini dapat digunakan untuk pengobatan penyakit kulit (koreng, kadas, bisul), diare, disentri, penyakit perdarahan.
Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesik dan antipiretik yang sangat populer dan lazim digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan, serta demam. Berbeda dengan obat analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parasetamol tak memiliki sifat antiradang (Anonimus, 2010b).
Di Indonesia, jumlah kasus keracunan asetaminofen sejak tahun 2002-2005 yang dilaporkan ke Sentra Informasi Keracunan Badan POM adalah sebesar 201 kasus dengan 175 kasus diantaranya adalah percobaan bunuh diri (BPOM, 2006). Keracunan akut asetaminofen berpotensi menimbulkan kerusakan hati yang mematikan dan kerusakan hati ini dapat diikuti kerusakan pada beberapa organ lain, salah satunya adalah ginjal (kedzierska dkk, 2003). Menurut Nurul (1999) yang disitasi oleh Nursekti (2010), parasetamol dosis 7,5 gram sekaligus akan menimbulkan kerusakan hati sedangkan dosis tunggal 15 gram dapat menyebabkan kematian. Banyaknya dosis parasetamol yang dapat menimbulkan efek hepatotoksik diantara spesies sangat beragam, mencit dan hamster kurang lebih 300 mg/kg (Mitchell dkk, 1973; Davis dkk, 1976), tikus kurang lebih 3 g/kg (Mitchell dkk 1973; Davis dkk, 1976).
Bukti ilmiah tentang efektivitas dan khasiat obat tradisional tanaman kucing-kucingan (Acalypha indica L.) dalam melindungi kerusakan hati belum diteliti. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk melihat gambaran histopatologis hati tikus putih yang diinduksi parasetamol.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh daun kucing-kucingan (Acalypha indica L) dalam melindungi hati dengan melihat gambaran histopatologis hati tikus putih yang diinduksi parasetamol.
Manfaat penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan di bidang obat tradisional asal tumbuhan serta dapat mengetahui manfaat yang terkandung di dalam daun kucing kucingan (Acalypha indica L) tersebut.
BAB II
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
2.1. Pemanfaatan Tanaman Obat Tradisional
Indonesia sebagai negara beriklim tropis, mempunyai tanaman obat yang sangat beragam, sehingga tradisi penggunaan tanaman obat sudah ada dari nenek moyang yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit, baik penyakit dalam maupun penyakit luar. Secara umum yang dimaksud dengan obat tradisional adalah ramuan dari tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat yang diketahui dari penuturan orang-orang tua atau pengalaman. Umumnya masyarakat memanfaatkan bahan-bahan asal tanaman obat masih dalam keadaan segar, maupun yang sudah dikeringkan sehingga dapat disimpan lama yang disebut dengan simplisia (Agus & Jacob, 1992 dalam Mumpuni, 2004). Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern (Lusia, 2006). Kelebihan pengobatan dengan menggunakan ramuan tumbuhan secara tradisional tersebut disamping tidak menimbulkan efek samping, juga ramuan tumbuh-tumbuhan tertentu mudah diperoleh di sekitar pekarangan rumah, dan mudah dibuat. Proses pengolahan obat tradisional pada umumnya sangat sederhana, diantaranya ada yang diseduh dengan air, dibuat bubuk kemudian dilarutkan dalam air, ada pula yang diambil sarinya (Pudjarwoto et al, 1992).
Tanaman obat di Indonesia terdiri dari beragam spesies yang kadang kala sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Komponen aktif yang terdapat pada tanaman obat yang menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi yang diinginkan (Lusia, 2006).
2.2. Tanaman Kucing-kucingan (Acalypha indica L)
2.2.1. Etiologi
Acalypha indica Linn. merupakan suatu gulma yang umum tumbuh secara liar di pinggir jalan, lapangan rumput maupun di lereng bukit. Gabriel (2009) berpendapat bahwa tanaman ini dapat ditemukan di beberapa negara dengan nama khas pada tiap-tiap negara, diantaranya:
a. Indonesia dengan nama Kucing-kucingan, Lelatang dan Rumput Kokosengan
b. Malaysia dengan nama Rumput Lislis dan Tjeka Mas
c. Filipina dengan nama Bugos, Maraotong dan Taptapingar
d. Thailand dengan nama Tamyae Tuaphuu, Tamyae Maeo dan Haan Maeo
e. Vietnam dengan nama tai t│uw││owj│ng│aas│n dan tai t│uw││owj│ng│xanh.
Menurut Backer dan Van den Brink (1965), taksonomi tanaman kucing-kucingan (Acalypha indica L) ini adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatofita
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Euphorbiales
Suku : Euphorbiaceae
Marga : Acalypha
Jenis : Acalypha indica Linn.
Sinonim : A. Spicata Forsk., A. Canescens Wall., A. Australis Linn.
| |
2.2.2. Morfologi
Acalypha indica Linn. merupakan tanaman semusim, tegak, dengan tinggi 30-50 cm, bercabang dengan garis memanjang kasar, dan berambut halus. Selain itu, tanaman ini memiliki daun tunggal, bertangkai panjang, dan letaknya tersebar. Helaian daunnya berbentuk bulat telur sampai lanset, tipis, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi dengan panjang 2,5-8 cm, lebar 1,5-3.5 cm, dan berwarna hijau. Tanaman ini juga memiliki bunga majemuk, berkelamin satu yang keluar dari ketiak daun, kecil-kecil, dan dalam rangkaian berbentuk bulir. Buahnya buah kotak, bulat, dan hitam (Gabriel, 2009).
2.2.3. Fitokimia
Dalimantha (2003) juga mengatakan bahwa daun, batang dan akar mengandung saponin dan tanin. Batangnya juga mengandung flavonoid dan daunnya mengandung minyak atsiri. Bagian yang digunakan adalah seluruh bagian tumbuhan sebagai obat, baik dalam bentuk kering atau segar. Seluruh bagian tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat dalam bentuk segar atau yang telah dikeringkan. Herba ini digunakan untuk pengobatan disentri basiler, disentri amuba, diare, anak dengan berat badan rendah (malnutrisi), gangguan pencernaan makanan (dispepsi), perdarahan, seperti mimisan (epistaksis), muntah darah (hematemesis), berak darah (melena), kencing darah (hematuria), malaria, dan susah buang air besar (sembelit). Herba ini berkhasiat antiradang, antibiotik, peluruh kencing (diuretik), pencahar, dan penghenti perdarahan (hemostatis). Hasil uji fitokimia ekstrak air dari tanaman Acalypha indica L ini menunjukkan bahwa tanaman ini mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, saponin, tannin, minyak atsiri, steroid, triterpenid, fenol dan flavanoid (Donatus, 1992). Tanaman ini juga mengandung senyawa kimia lainnya yaitu diantaranya adalah acalyphamide (sebagai asam), aurantiamide dan asam cukanya, succinimide calypho lacetate, 2-methyl anthraquinone, cuka tri-O-methylellagic, b-sitosterol dan b - D-Glucoside (daun-daun), cyanogenetic glucoside, acalyphine, dua alkaloida, viz, acalyphine dan triacetonamine, kaempferol, quebrachitol, b-sitosterol asam cuka dan samak, stigmasterol (akar) (Anonimus, 2005).
2.3. Hati
Hati adalah organ yang terbesar yang terletak di sebelah kanan atas rongga perut di bawah diafragma. Beratnya 1.500 gr atau 2,5 % dari berat badan orang dewasa normal. Pada kondisi hidup berwarna merah tua karena kaya akan persediaan darah. Hati terbagi menjadi lobus kiri dan lobus kanan yang dipisahkan oleh ligamentum falciforme. Lobus kanan hati lebih besar dari lobus kirinya dan mempunyai 3 bagian utama yaitu : lobus kanan atas, lobus caudatus, dan lobus quadratus. (Ganong, 2003).
Hati disuplai oleh dua pembuluh darah yaitu :
1. Vena porta hepatica yang berasal dari lambung dan usus, yang kaya akan nutrien seperti asam amino, monosakarida, vitamin yang larut dalam air, dan mineral.
2. Arteri hepatica, cabang dari arteri kuliaka yang kaya akan oksigen.
Cabang-cabang pembuluh darah vena porta hepatica dan arteri hepatica mengalirkan darahnya ke sinusoid. Hematosit menyerap nutrien, oksigen, dan zat racun dari darah sinusoid. Di dalam hematosit zat racun akan dinetralkan sedangkan nutrien akan ditimbun atau dibentuk zat baru, dimana zat tersebut akan disekresikan ke peredaran darah tubuh.
Hati memegang peranan yang sangat penting dalam fungsi fisiologis tubuh. Hati merupakan tempat pembentukan lipid, albumin, dan beberapa protein plasma. Selain itu juga merupakan organ penting dalam proses biotransformasi senyawa endogen maupun senyawa eksogen, misalnya amonia, hormon steroid, dan obat. Metabolisme karbohidrat, protein, dan lipid juga terjadi di hati. Demikian pula proses detoksifikasi atau inaktivasi obat atau senyawa beracun lainnya dilakukan oleh hati, sehingga dapat dikatakan hati mempunyai fungsi pertahanan dan pelindung bagi tubuh (Wyngaarden,1982).
Hati merupakan alat tubuh yang paling sering mengalami kerusakan. Zimmerman (1978), menyebutkan ada tiga macam kerusakan hati yaitu kerusakan hati akut, subakut, dan kronis.
Kerusakan hati akut dibedakan menjadi 3 macam kerusakan, yaitu:
1. sitotoksik (hepatoseluler) yang berhubungan dengan kerusakan parenkim sel hati. Luka ini dapat berupa steatosis (degenerasi melemak) dan atau nekrosis sel-sel hati.
2. kolestatik berupa hambatan aliran empedu dengan sedikit atau tanpa kerusakan sel-sel hati, baik karena luka pada kanalikuler (hepatokanalikuler) atau luka pada saluran empedu (kolangia destruktif), dapat pula tanpa adanya luka (kanalikuler).
3. campuran berupa kombinasi dari kedua macam kerusakan sitotoksik dan kolestatik.
Hati memiliki cadangan fungsional yang luar biasa. Pada binatang percobaan telah dibuktikan bahwa 10% parenkim hati saja sudah cukup untuk mempertahankan fungsi hati normal. Pada manusia mungkin demikian juga sifatnya, sehingga kerusakan hati haruslah luas sekali untuk menimbulkan gejala klinik insufisiensi hepatik. Kelainan fokal seperti metastasis, nekrosis fokal atau abses kecil mungkin tidak menimbulkan gejala klinik, sedangkan kelainan luar seperti intoksikasi dengan infeksi virus, penyakit gizi dan terpapar dengan hepatotoksin kadang-kadang menyebabkan gangguan fungsi hati yang memburuk (Mitchel dkk., 1973).
2.4. Paracetamol
Dari sekian banyak obat analgesik semuanya mengandung satu unsur utama, yaitu parasetamol atau Asetaminofen. Parasetamol ditemukan sekitar 1880 saat ilmuwan bekerja mencari penanggulangan malaria, namun penemuan tersebut masih diabaikan. Pada tahun 1956 perusahaan Inggris Frederick Stearns & Co memproduksi Parasetamol dalam bentuk merek dagang Panadol, dan dua tahun kemudian Panadol Elixir diproduksi sebagai obat untuk anak-anak. Di tahun 1963 paten Parasetamol berakhir dan menjadi nama generik hingga sekarang (Anonimous, 2010).
Dalam golongan obat analgetik, parasetamol atau nama lainnya asetaminofen memiliki khasiat sama seperti aspirin atau obat-obat non steroid antiinflamatory drug (NSAID) lainnya. Seperti aspirin, parasetamol berefek menghambat prostaglandin (mediator nyeri) di otak tetapi sedikit aktivitasnya sebagai penghambat prostaglandin perifer. Namun, tak seperti obat-obat NSAID, obat ini tidak memiliki aktivitas antiinflamasi (antiradang) dan tidak menyebabkan gangguan saluran cerna maupun efek kardiorenal yang tidak menguntungkan. Karenanya cukup aman digunakan pada semua golongan usia (Sartono, 1996).
Selama bertahun-tahun digunakan, informasi tentang cara kerja parasetamol dalam tubuh belum sepenuhnya diketahui dengan jelas hingga pada tahun 2006 dipublikasikan dalam salah satu jurnal Bertolini A, et. al (2007) dengan topik Parasetamaol : New Vistas of An Old Drug, mengenai aksi pereda nyeri dari parasetamol ini. Ternyata di dalam tubuh efek analgetik dari parasetamol diperantarai oleh aktivitas tak langsung reseptor canabinoid CB1. Di dalam otak dan sumsum tulang belakang, parasetamol mengalami reaksi deasetilasi dengan asam arachidonat membentuk N-arachidonoylfenolamin, komponen yang dikenal sebagai zat endogenous cababinoid. Adanya N-arachidonoylfenolamin ini meningkatkan kadar canabinoid endogen dalam tubuh, disamping juga menghambat enzim siklooksigenase yang memproduksi prostaglandin dalam otak. Karena efek canabino-mimetik inilah terkadang parasetamol digunakan secara berlebihan.
Parasetamol sebenarnya jarang memberi efek samping yang serius apabila digunakan sesuai dengan petunjuk. Beberapa pendapat yang menyebutkan bahwa obat ini terkait dengan asma pada anak-anak juga belum terbukti secara klinis. Hanya kadang obat ini bisa menimbulkan ruam atau gatal-gatal pada beberapa orang tertentu. Penggunaan yang berlebihan dan dalam jangka panjang perlu diwaspadai karena bisa memicu kerusakan hati. Perlu diperhatikan juga beberapa tanda overdosis dari parasetamol misalnya jika terdapat gejala mual, muntah, lemas dan keringat berlebih (Adipedia, 2010).
2.5. Overdosis Parasetamol dan Mekanisme Toksisitasnya
Overdosis parasetamol dapat terjadi pada penggunaan akut maupun penggunaan berulang. Overdosis parasetamol akut dapat terjadi jika seseorang mengkonsumsi parasetamol dalam dosis besar dalam waktu 8 jam atau kurang. Kejadian toksik pada hati akan terjadi pada penggunaan 7,5-10 gram dalam waktu 8 jam atau kurang. Kematian bisa terjadi (mencapai 3-4% kasus) jika parasetamol digunakan sampai 15 gram (Anonimous, 2010).
Pada dosis terapi 500-2 gram, 5-15% obat ini umunya dikonversi oleh enzim sitokrom P450 di hati menjadi metabolit reaktifnya, yang disebut N-acetyl-p-benzoquinoneimine (NAPQI). Proses ini disebut aktivasi metabolik, dan NAPQI berperan sebagai radikal bebas yang memiliki lama hidup yang sangat singkat. Meskipun metabolisme parasetamol melalui ginjal tidak begitu berperan, jalur aktivasi metabolik ini terdapat pada ginjal dan penting secara toksikologi. Dalam keadaan normal, NAPQI akan didetoksikasi secara cepat oleh enzim glutation dari hati. Glutation mengandung gugus sulfhidril yang akan mengikat secara kovalen radikal bebas NAPQI, menghasilkan konjugat sistein. Sebagiannya lagi akan diasetilasi menjadi konjugat asam merkapturat, yang kemudian keduanya dapat diekskresikan melalui urin (Anonimous, 2009).
Pada paparan parasetamol overdosis, jumlah dan kecepatan pembentukan NAPQI melebih kapasitas hati dan ginjal untuk mengisi ulang cadangan glutation yang diperlukan. NAPQI kemudian menyebabkan kerusakan intraseluler diikuti nekrosis hati, dan bisa juga menyebabkan kegagalan ginjal. Suatu studi populasi terhadap metabolisme parasetamol menunjukkan bahwa proporsi populasi yang mengalami aktivasi metabolik bervariasi dari 2-20% pada subyek ras kaukasian. Orang-orang yang mengalami kanker hati dan hepatitis kronis B nampaknya memiliki kapasitas aktivasi metabolik parasetamol yang relatif tinggi. Orang-orang yang demikian diduga memiliki ambang toksisitas parasetamol yang lebih rendah dan mungkin juga lebih rentan terhadap karsinogen dari lingkungan (Sartono, 1996).
Menurut Rawlins dkk, (1977), Donatus (1994) yang disitasi oleh Nursekti (2010), kekurang sempurnaan penyerapan parasetamol diduga karena analgetik bersangkutan mengalami pengurangan prasistemik di dinding usus atau hati. Pemberian dosis berlebih akan bereaksi dua sampai tiga jam setelah pemberian parasetamol akan timbul gejala mual, muntah, dan sakit perut yang menandai timbulnya nekrosis hati. Gangguan fungsi hati terjadi dalam waktu 24 jam, dan mencapai puncak kurang lebih 48 jam dengan tanda-tanda biokimianya yaitu meningkatnya aktivitas enzim serum (GOT, GPT, oksibutirat dehidrogenase), dan laktat dehidrogenase (LDH) serum, terjadi hiperbilirubinemia (Zimmerman, 1978).
Penelitian yang dilakukan pada hewan, dosis tinggi dari Parasetamol akan menurunkan kadar dari salah satu antioksidan yang penting, yaitu glutathion, yang ada pada jaringan paru. Jadi, kemungkinan gangguan paru yang terjadi akibat pemakaian rutin Parasetamol disebabkan karena terjadi penurunan glutathion, yang menyebabkan peningkatan resiko dari kerusakan jaringan paru dan peningkatan dari penyakit pernafasan. Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya, yang menyatakan bahwa penggunaan Parasetamol dapat meningkatkan resiko yang berat bagi penderita asma (Denimonaja, 2009).
BAB III
MATERIAL DAN METODE PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi FKH Unsyiah dan Laboratorium Histologi FKH Unsyiah. Waktu penelitian adalah sejak bulan Mei 2011 sampai dengan bulan September 2011.
Sampel Penelitian
Penelitian ini menggunakan sampel 15 ekor tikus putih dari strain Whistar
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pellet 785, daun Acolypha indica L., etanol p.a, CMC, kloroform, aquadest, parasetamol, alcohol 70%.
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang tikus, blender, vacuum rotary evaporator, spuit insulin, spuit 300 cc, surgery minor set, sonde lambung, mikroskop, objek glass, cover glass
Prosedur Penelitian
Penelitian ini terdiri atas beberapa tahap yaitu :
1. Pembuatan ekstrak etanol daun Acolypha indica L.
Daun Acolypha indica L dikeringanginkan beberapa hari, selanjutnya di blender menjadi serbuk. Kemudian serbuk tersebut diayak dengan pengayak serbuk ukuran 60 mesh. Serbuk daun Acolypha indica L yang diperoleh dimaserasi menggunakan etanol p.a. Ekstrak di saring menggunakan kapas dan kertas saring. Kemudian filtrate yang diperoleh dikumpul dan di uapkan ( dikondensasikan ) menggunakan alat penguap berputar ( Vacuum rotary evaporator ) yang dilengkapi penangas air dan pompa vakum. Selanjutnya ekstrak kasar daun Acolypha indica L ini diberikan kepada tikus putih.
2. Pembuatan larutan CMC 1 %
Larutan CMC 1 % dibuat dengan cara melarutkan lebih kurang 1 gr CMC yang telah ditimbang seksama ke dalam air sampai volume 100 ml. Larutan ini digunakan sebagai pembawa parasetamol dan ekstrak.
3. Pembuatan suspensi dan penetapan dosis parasetamol
Suspensi parasetamol dalam CMC 1 % dibuat dengan cara melarutkan sejumlah gram parasetamol yang telah ditimbang ke dalam CMC 1 % hingga konsentrasi yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu dosis hepatotoksik. Dosis parasetamol dipilih berdasarkan dosis hepatotoksiknya terhadap tikus yaitu 2,5 g/kg BB (Donatus, 1983).
4. Pengelompokan dan perlakuan hewan uji
Penelitian ini dikerjakan mengikuti rancangan acak lengkap, menggunakan lima belas ekor tikus putih jantan yang dibagi menjadi lima kelompok sama banyak. Tikus kelompok I diberi CMC 1 % selama 7 hari berturut-turut dan diikuti dengan pemberian aquades 8 jam setelah pemberian CMC 1 % hari ke 7 (Kontrol positif). Tikus kelompok II diberi CMC 1 % selama 7 hari berturut-turut dan diikuti dengan pemberian parasetamol dosis 2,5 g/kg bb 8 jam setelah pemberian CMC hari ke 7 (kontrol negatif). Tikus kelompok III sampai V diberi ekstrak etanol Acalypha indica L. berturut-turut dengan dosis 50 mg/kg BB; 100 mg/kg BB; 200 mg/kg BB; selama 7 hari berturut-turut dan pada hari ke-7 diberi parasetamol dosis 2,5 g/ kg BB.
5. Pengambilan organ hati dan pembuatan preparat histologist
Sebelum dilakukan pembedahan, mencit dibunuh dengan cara dislokasi os atlanto oksipitale. Scalpel dan alat bedah disiapkan untuk membantu mengambil organ hati. Setelah mati, mencit diletakkan pada nampan bedah dan ditata pada posisi ventral diatas. Diambil organ hati yang terletak pada daerah hulu lambung dan diantara usus halus. Kemudian dicuci dengan NaCl dan amati perubahan anatomi organ mencit tersebut. Parameter yang diamati adalah besar, warna dan konsistensi hati. Setiap perubahan patologi anatomis organ hati yang terlihat lalu difoto.
Untuk melihat perubahan hati secara mikroskopis dilakukan dengan cara pembuatan preparat histologist hati, diawali dengan fiksasi dengan BNF (Buffer Neutral Formalin), dehidrasi menggunakan aseton, kliring dalam xylol dan embedding dalam paraffin block. Selanjutnya sediaan dipotong dengan menggunakan mikrotom rotary dengan ketebalan 6 µm , kemudian diwarnai dengan hematoksilin dan eosin ( HE ), mounting menggunakan balsam kanada, ditutup dengan kaca penutup lalu diamati dibawah mikroskop. Parameter yang diamati meliputi infiltrasi sel radang, hiperemi, hyperplasia dan juga diamati pula perubahan pada sel hati seperti degenerasi sel dan nekrosis. Setiap perubahan histologist organ hati yang terlihat lalu difoto dengan mikroskop.
6. Analisis data penelitian
Penelitian ini menggunakan lima kelompok perlakuan (K0; K1; K2; K3; dan K4) dengan tiga ulangan perlakuan pada masing-masing perlakuan. Data hasil pengamatan terhadap gambaran patologi anatomi dan histopatologi hati mencit dianalisis dengan cara deskriptif.
Posted By : ADHONA BHAJANA W.N, S.Kh
